Baru-baru ini, perhatian dunia medis kembali tertuju pada ancaman Hantavirus. Pada Mei 2026, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) merilis laporan mengenai klaster infeksi Hantavirus terkait spesies Virus Andes (ANDV) pada penumpang kapal pesiar di Samudra Atlantik Selatan. Sebelumnya, pada akhir tahun 2025, Pan American Health Organization (PAHO) juga telah mengeluarkan peringatan kewaspadaan menyusul peningkatan signifikan kasus dan angka kematian akibat Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) di kawasan benua Amerika.
Berdasarkan keterangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infeksi hantavirus berpotensi memicu sejumlah sindrom kesehatan. Dua yang paling utama adalah sindrom kardiopulmoner hantavirus (HCPS) yang berdampak pada jantung dan paru-paru, serta demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS) yang menyerang sistem pembuluh darah dan ginjal. Kasus HCPS lebih dominan menyebar di benua Amerika, sedangkan HFRS lebih banyak tercatat di wilayah Eropa dan Asia.
Terkait penularannya, WHO menjelaskan bahwa manusia umumnya terinfeksi saat menghirup atau bersentuhan langsung dengan material yang terkontaminasi oleh air liur, urine, maupun kotoran hewan pengerat. Risiko paparan virus ini sering kali terjadi pada saat seseorang sedang membersihkan area ruangan yang menjadi sarang tikus.
Kasus-kasus ini kembali mengingatkan kita bahwa penyakit infeksi menular tidak mengenal batas negara. Lantas, apa itu Hantavirus dan bagaimana perkembangannya di Indonesia? RSU Allam Medica mengajak Anda untuk mengenali ancaman kesehatan ini agar kita dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus merupakan penyakit infeksi zoonosis, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, di mana inang utamanya adalah hewan pengerat (rodensia) seperti tikus. Penularan ke manusia umumnya tidak terjadi melalui gigitan secara langsung, melainkan melalui udara (aerosol) yang tercemar oleh kotoran, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi. Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui makanan yang terkontaminasi oleh virus tersebut.
Meski virus ini tidak menyebabkan hewan pengerat menjadi sakit, dampaknya pada manusia bisa sangat fatal. Secara umum, Hantavirus memicu dua komplikasi utama:
Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS): Gejala yang menyerang fungsi ginjal dan memicu pendarahan.
Hantavirus CardioPulmonary Syndrome (HCPS): Infeksi yang menyerang paru-paru secara cepat, memicu sesak napas yang parah hingga penumpukan cairan di paru-paru.
Pada wabah spesifik, seperti infeksi Virus Andes, penularan langka dari manusia ke manusia (melalui kontak erat yang cukup lama) juga telah terbukti dapat terjadi.
Apakah Hantavirus Ada di Indonesia?
Banyak masyarakat yang mengira penyakit ini hanya ada di luar negeri. Faktanya, studi epidemiologis membuktikan bahwa Hantavirus tersebar luas secara global, termasuk di Indonesia.
Penemuan infeksi Hantavirus di Indonesia pertama kali dilaporkan pada tahun 1991 di kota Maumere pada pekerja pelabuhan. Sejak saat itu, keberadaan virus ini mulai dilaporkan tersebar di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, hingga Denpasar. Pada tahun 2018, bahkan terdapat laporan kasus seorang wisatawan asal Jerman yang terinfeksi Hantavirus setelah berkunjung ke Pulau Sulawesi.
Indonesia memiliki risiko tinggi sebagai tempat perkembangbiakan Hantavirus. Ada beberapa faktor yang mendukung penyebaran ini:
Iklim Tropis dan Keanekaragaman Hayati: Sebagai negara kepulauan di garis khatulistiwa, Indonesia menjadi habitat ideal bagi berbagai satwa, termasuk beragam jenis tikus liar yang menjadi reservoir alami Hantavirus.
Perubahan Lingkungan: Alih fungsi lahan hutan menjadi area pertanian atau pemukiman, serta seringnya terjadi bencana alam (seperti banjir), membuat interaksi antara habitat tikus liar dan permukiman manusia menjadi semakin dekat.
Faktor Sosial Budaya: Adanya tradisi di beberapa kelompok masyarakat yang kerap mengonsumsi daging hewan liar seperti tikus dan kelelawar turut meningkatkan risiko paparan Hantavirus.
Gejala Hantavirus
Mendeteksi infeksi Hantavirus pada tahap awal sering kali menantang sebab tanda-tandanya sangat menyerupai keluhan flu biasa. Keluhan medis umumnya baru akan dirasakan oleh penderita dalam kurun waktu 1 hingga 8 minggu setelah pertama kali terpapar virus. Secara umum, perkembangan penyakit ini terbagi ke dalam beberapa fase:
Fase Permulaan Pada tahap awal, penderita biasanya akan mengalami:
Suhu tubuh meningkat (demam) yang dibarengi rasa menggigil.
Rasa nyeri otot yang intens, khususnya memengaruhi area paha, pinggul, punggung, serta bahu.
Keluhan sakit kepala dan pusing.
Timbulnya masalah pencernaan, seperti mual, muntah, hingga diare.
Fase Kritis Memasuki tahap yang lebih parah, gejala yang muncul akan bergantung pada organ yang diserang:
Gangguan pada Pernapasan dan Jantung: Penderita dapat mengalami batuk kering yang tidak kunjung reda, kesulitan bernapas yang berangsur-angsur memburuk, sensasi dada tertekan seolah ditindih beban berat, serta ritme detak jantung yang menjadi tidak stabil.
Gangguan pada Ginjal dan Pembuluh Darah: Jika virus menargetkan area ini, tanda-tanda perburukan yang tampak meliputi menurunnya tekanan darah secara drastis, terjadinya pendarahan, syok akibat terganggunya aliran darah, hingga penurunan fungsi ginjal secara mendadak (gagal ginjal akut).
Masa Kritis dan Pemulihan Fase kritis ini merupakan masa yang sangat menentukan nyawa pasien. Tanpa adanya penanganan medis yang ketat dan intensif, infeksi ini bisa berujung pada kematian hanya dalam waktu 24 sampai 48 jam. Walaupun demikian, berdasarkan catatan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), apabila pasien mampu bertahan dan melewati masa kritis tersebut, durasi pemulihan mereka umumnya akan berlangsung dengan cukup cepat.
Pencegahan dan Penanganan
Sebagai fasilitas kesehatan yang senantiasa mengedepankan keselamatan pasien. Sobat almed, hingga saat ini belum ada obat antivirus khusus maupun vaksin yang disetujui secara luas oleh WHO untuk mengobati infeksi Hantavirus. Perawatan medis berfokus pada terapi suportif, seperti menjaga keseimbangan cairan tubuh dan memberikan dukungan alat bantu pernapasan bagi pasien yang mengalami gagal napas.
Oleh karena itu, tindakan pencegahan adalah lini pertahanan terbaik kita. Beberapa langkah yang sangat dianjurkan meliputi:
Menjaga Sanitasi Rumah: Pastikan rumah terbebas dari tikus dengan memusnahkan sarang tikus dan menyimpan sumber makanan di wadah tertutup rapat.
Hindari Kontak Fisik: Sebisa mungkin, hindari kontak langsung maupun tidak langsung dengan hewan pengerat dan area yang berpotensi tercemar kotorannya.
Sirkulasi Udara yang Baik: Saat membersihkan gudang atau area yang lama tertutup, pastikan sirkulasi udara berjalan dengan baik sebelum Anda masuk, serta gunakan masker pelindung.
Pemahaman yang baik mengenai risiko di lingkungan sekitar akan membantu kita meminimalisasi penyakit. Jika Anda atau keluarga mengalami gejala demam tinggi, nyeri otot hebat, yang diikuti dengan sesak napas—terutama setelah beraktivitas di area yang rawan keberadaan hewan pengerat atau riwayat terpapar tikus atau kotorannya dalam 1-2 bulan terakhir —segera periksakan diri ke RSU Allam Medica agar mendapatkan observasi medis yang tepat dan cepat.
Kesehatan Anda adalah Tujuan Kami.
Oleh: dr. Soviyanti Wulandari