085292224886 allam.medica@yahoo.co.id

Hubungi Kami

Kirim Pesan
Get In Touch
Jl. P. Diponegoro No.609, Bumiayu, Brebes
Beranda Artikel Detail Artikel
Informasi

TB pada Anak? Kok bisa? Mari Kenali Tanda dan Gejalanya!

RSU Allam Medica 29 May 2026 4 menit baca 37 tayangan
TB pada Anak? Kok bisa? Mari Kenali Tanda dan Gejalanya!
Tuberkulosis (TB) sering dianggap sebagai penyakit orang dewasa, namun kenyataannya anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang sangat rentan. Di Indonesia, TB pada anak masih menjadi tantangan serius. Berdasarkan Buku Saku Kementerian Kesehatan RI 2024, Indonesia adalah negara dengan jumlah kasus TB terbanyak kedua di dunia. Pada tahun 2022, notifikasi kasus TB anak usia <15 tahun baru mencapai 136.969 kasus (16,6% dari seluruh kasus), sementara cakupan pemberian Terapi Pencegahan TB (TPT) pada kontak serumah masih sangat rendah, yaitu hanya sekitar 2,6% dari target.

TB pada anak bukan hanya masalah kesehatan individu, tetapi juga berkontribusi terhadap beban TB di masa depan. Anak yang terinfeksi, terutama balita, berisiko tinggi berkembang menjadi TB berat (seperti meningitis TB atau TB milier) yang dapat menyebabkan kematian atau disabilitas jangka panjang. Sementara itu, remaja (10-19 tahun) dapat mengalami TB infeksius seperti orang dewasa dan berpotensi menularkan ke lingkungan sekitarnya.


Kenapa Anak Rentan Tertular?

Anak-anak lebih mudah tertular TB karena sistem kekebalan tubuh mereka yang belum matang. Sumber penularan utama adalah kontak erat dengan orang dewasa di sekitarnya yang menderita TB aktif (BTA positif), terutama anggota keluarga yang tinggal serumah.

Sebuah penelitian di RSU Universitas Muhammadiyah Cirebon yang dipublikasikan di Jurnal Prepotif (2026) mengidentifikasi beberapa faktor risiko dominan TB pada anak:

Riwayat kontak dengan penderita TB dewasa (faktor paling dominan, dengan odds ratio 6,211).
Usia: Kelompok usia 12-59 bulan (balita) paling banyak terkena (53,3%).
Status Imunisasi BCG: Anak yang tidak mendapat imunisasi BCG memiliki risiko lebih besar.
Paparan asap rokok juga menjadi faktor lingkungan yang signifikan.


Gejala yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

Ciri khas TB pada anak adalah gejalanya sering tidak spesifik dan mirip penyakit lain, sehingga sering terlambat terdeteksi. Menurut Buku Saku Kemenkes 2024, karakteristik gejala TB adalah menetap >2 minggu dan tidak membaik dengan terapi standar untuk diagnosis banding lain.

Segera periksakan anak ke dokter jika mengalami:

Batuk >2 minggu, bersifat non-remitting (tidak pernah reda atau semakin parah), dan tidak membaik dengan antibiotik.
Demam ringan >2 minggu atau berulang tanpa sebab jelas.
Berat badan sulit naik, menurun, atau terjadi gagal tumbuh (failure to thrive) dalam 2-3 bulan meskipun asupan nutrisi baik.
Keringat malam tanpa aktivitas (khas tapi tidak spesifik jika berdiri sendiri).
Lesu, malaise, anak kurang aktif bermain.
Pada remaja, bisa ditemukan batuk darah (hemoptisis) dan sesak napas.
Gejala tidak khas lainnya: pneumonia yang tidak membaik dengan antibiotik, atau mengi (wheezing) asimetris yang tidak responsif terhadap bronkodilator (akibat penekanan saluran napas oleh kelenjar getah bening yang membesar).


Penegakan Diagnosis pada Anak Lebih Kompleks dari Dewasa

Diagnosis TB pada anak tidak sesederhana pada orang dewasa. Buku Saku Kemenkes 2024 menekankan bahwa pemeriksaan bakteriologis harus diupayakan pada semua anak terduga TB, namun hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis.

Pemeriksaan penunjang meliputi:

Tes Cepat Molekuler (TCM) dari spesimen respirasi (dahak, induksi sputum, aspirat lambung, atau bahkan feses).
Rontgen toraks (foto dada) posisi AP dan lateral.
Uji kulit tuberkulin (Mantoux) atau IGRA (Interferon Gamma Release Assay).
Jika pemeriksaan bakteriologis negatif atau tidak tersedia, diagnosis ditegakkan secara klinis menggunakan sistem skor (berdasarkan gejala, kontak, Mantoux, berat badan, dan rontgen). Keputusan memberikan terapi jangan ditunda, terutama pada balita, anak dengan HIV, atau gizi buruk yang berisiko tinggi TB berat.

TB pada anak adalah penyakit yang berbahaya namun dapat dicegah dan disembuhkan. Deteksi dini sangat penting karena gejalanya sering tidak khas. Peran orang tua sangat vital dalam mengenali gejala, memastikan kepatuhan pengobatan, dan menciptakan lingkungan yang sehat. Program nasional saat ini berfokus pada peningkatan penemuan kasus (target 90%) dan cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) pada kontak anak. RSU Allam Medica Bumiayu hadir dengan layanan Spesialis Anak yang siap memberikan pelayanan terbaik untuk Si Kecil. Jangan tunda kesehatan Si Kecil. Segera kunjungi poli Spesialis Anak RSU Allam Medica Bumiayu. Untuk informasi jadwal dokter dan pendaftaran, hubungi Customer Care kami.


oleh: dr. Soviyanti Wulandari
Kembali ke Daftar Artikel