085292224886 allam.medica@yahoo.co.id

Hubungi Kami

Kirim Pesan
Get In Touch
Jl. P. Diponegoro No.609, Bumiayu, Brebes
Beranda Artikel Detail Artikel
Kesehatan

PCOS (Polycystic Ovary Syndrome)

RSU Allam Medica 15 June 2026 5 menit baca 40 tayangan
PCOS (Polycystic Ovary Syndrome)
Pernahkah Anda mengalami gangguan pada siklus haid ? tumbuhnya rambut di tempat yang tidak biasa, atau jerawat yang sulit sembuh? Jika iya, bisa jadi gejala tersebut berkaitan dengan kondisi yang disebut Polycystic Ovary Syndrome atau PCOS.

Apa itu PCOS?

PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) atau Sindrom Ovarium Polikistik adalah gangguan hormonal yang paling umum terjadi pada 6-20% wanita usia reproduktif (15–49 tahun). Dimana pada tahun 2017 terjadi 1,55 juta kasus baru PCOS per tahun secara global. Di Indonesia sendiri, prevalensi PCOS 4-6% pada wanita usia subur. Kondisi ini dapat mempengaruhi fertilitas/ kesuburan, siklus menstruasi, dan kesehatan jangka panjang, 72% penderita PCOS berisiko mengalami infertilitas. Mengenali gejalanya sejak dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi.

PCOS adalah gangguan endokrin kompleks yang ditandai dengan ketidakseimbangan hormon, terutama peningkatan hormon androgen (hormon pria) dalam tubuh wanita. Kondisi ini menyebabkan ovarium tidak dapat berfungsi dengan normal, sehingga folikel-folikel kecil terbentuk tetapi tidak berkembang menjadi telur yang matang.

Diagnosis PCOS ditegakkan berdasarkan Kriteria Rotterdam, yaitu jika memenuhi minimal 2 dari 3 kriteria berikut: (1) gangguan ovulasi atau tidak adanya ovulasi, (2) hiperandrogenisme (kelebihan hormon androgen), dan (3) gambaran ovarium polikistik pada pemeriksaan USG.

Gejala yang Perlu di Waspadai :

Siklus menstruasi tidak teratur — terlalu jarang (oligomenorea), tidak haid sama sekali (amenorea), atau terlalu sering
Pertumbuhan rambut berlebih di wajah, dada, atau perut (hirsutisme)
Jerawat membandel yang tidak membaik dengan pengobatan biasa
Kerontokan rambut kepala (alopecia) dengan pola seperti kebotakan pria
Kelebihan berat badan atau obesitas, terutama pada area perut
Kesulitan hamil (infertilitas) akibat gangguan ovulasi
Kulit menggelap di area leher, ketiak, atau lipatan tubuh (acanthosis nigricans)
Gangguan psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi
Apa Saja yang Meningkatkan Risiko Terjadinya PCOS?

Berdasarkan penelitian terkini, beberapa faktor berikut secara signifikan meningkatkan risiko terjadinya PCOS:

Stres berkepanjangan : Stres berkepanjangan dapat mengaktifkan mekanisme neuroendokrin yang mengganggu keseimbangan hormon reproduksi. Wanita dengan PCOS berisiko 3,5 kali lebih besar mengalami sindrom metabolik jika tingkat stresnya tinggi.
Siklus menstruasi tidak teratur : Gangguan menstruasi merupakan faktor risiko paling dominan. Wanita dengan siklus tidak teratur berisiko 12 hingga 25 kali lebih tinggi mengalami PCOS dibanding yang siklus menstruasinya normal.
Kurang aktivitas fisik : Gaya hidup sedentari meningkatkan resistensi insulin — faktor kunci perkembangan PCOS. Penelitian menemukan 72% penderita PCOS tidak memenuhi panduan aktivitas fisik yang dianjurkan.
Obesitas : Lemak berlebih, terutama di area perut, memicu resistensi insulin dan meningkatkan kadar androgen. Obesitas pada remaja dapat melipattigakan risiko diagnosis PCOS.
Riwayat keluarga : Wanita dengan ibu atau saudara perempuan yang menderita PCOS memiliki kemungkinan lebih dari 2 kali lipat untuk mengalami kondisi yang sama. Faktor genetik berperan penting dalam PCOS.
Pola makan tidak sehat : Konsumsi tinggi karbohidrat sederhana, makanan cepat saji, minuman berkafein berlebih, dan asupan serat rendah berkontribusi pada perkembangan dan perburukan gejala PCOS.
Dampak jangka panjang yang perlu diwaspadai

Jika tidak ditangani, PCOS dapat meningkatkan risiko berbagai kondisi kesehatan serius, antara lain: diabetes melitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, kanker endometrium akibat penebalan dinding rahim, serta gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Wanita dengan PCOS tercatat memiliki prevalensi gejala depresi dan kecemasan 2–3 kali lebih tinggi dibandingkan wanita tanpa PCOS.

Tips pola makan untuk penderita PCOS

Pengaturan pola makan yang tepat dapat secara signifikan membantu mengelola gejala PCOS:

Pilih karbohidrat dengan indeks glikemik rendah — gandum utuh, nasi merah, oat, dan sayuran
Tingkatkan asupan protein (sekitar 20% dari total kalori harian) untuk meningkatkan rasa kenyang dan sensitivitas insulin
Konsumsi minimal 5 porsi buah dan sayuran per hari untuk asupan serat dan mikronutrien
Konsumsi ikan minimal sekali seminggu sebagai sumber asam lemak omega-3
Batasi lemak jenuh di bawah 10% total kalori harian, dan batasi daging merah
Hindari cemilan padat kalori, minuman berpemanis tinggi, dan alkohol
Makan teratur 3–4 kali sehari, jangan lewatkan sarapan
Pastikan asupan makanan kaya asam folat, zat besi, vitamin C, vitamin E, vitamin B6, zinc, dan kalsium
Kapan harus ke dokter?

Segera konsultasikan ke dokter kandungan jika Anda mengalami siklus menstruasi tidak teratur lebih dari 3 bulan, kesulitan hamil setelah 12 bulan mencoba, atau gejala kelebihan androgen seperti hirsutisme dan jerawat parah. Deteksi dan penanganan dini dapat mencegah komplikasi jangka panjang dan meningkatkan kualitas hidup Anda.

PCOS dapat terjadi pada siapa saja, termasuk remaja dan wanita muda. Mengenali gejalanya sejak dini merupakan langkah penting untuk mencegah berbagai komplikasi di masa depan. Jangan menganggap haid yang tidak teratur sebagai hal yang biasa, terutama jika disertai gejala lain seperti jerawat berlebih, kenaikan berat badan, atau pertumbuhan rambut yang tidak wajar.

Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala yang mengarah ke PCOS, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi (Sp.OG) di RSU Allam Medica Bumiayu untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat. Untuk informasi jadwal dokter dan pendaftaran, hubungi Customer Care kami.



RSU Allam Medica Bumiayu

Kesehatan Anda, Tujuan Kami.

Oleh : dr. Soviyanti Wulandari



DAFTAR PUSTAKA

Murthi AK, Wratsangka R, Sisca, Kurniawan Y. Polycystic ovarian syndrome (PCOS) in adolescent girls in Indonesia: a new burden in women's reproductive health. J Biomedika Kesehat. 2025;8(3):245-249. doi:10.18051/JBiomedKes.2025.v8.245-249.
Utami D, Zain AA, Faiza AN, Balqis S, Sistiarani C, Nafisah L. Literature review: faktor risiko kejadian Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS) pada wanita usia produktif. J Multilingual. 2025;5(1):369-383.
Lutfia NA. Pengaturan pola makan terhadap keberhasilan terapi PCOS. J Medika Hutama. 2021;2(4):1089-1093.
Dewi NLPR. Pendekatan terapi Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). CDK. 2020;47(9):703-705.
Palisuri ASPL. Tingkat pengetahuan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) dan faktor risikonya pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin angkatan 2023 [skripsi]. Makassar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin; 2024.
Singh S, Pal N, Shubham S, Sarma DK, Verma V, Marotta F, et al. Polycystic ovary syndrome: etiology, current management, and future therapeutics. J Clin Med. 2023;12(4):1454. doi:10.3390/jcm12041454.
Kembali ke Daftar Artikel