Kulit kering, merah, dan gatal yang terus kambuh bukan sekadar masalah kosmetik. Kondisi ini sering kali adalah eksim atau dermatitis atopik, penyakit kulit kronis yang dapat mengganggu tidur, konsentrasi, hingga rasa percaya diri. Kabar baiknya, eksim dapat dikendalikan dengan perawatan kulit yang tepat dan pengobatan yang sesuai anjuran dokter.
Apa Itu Dermatitis dan Eksim?
Dermatitis berarti peradangan pada kulit, sedangkan eksim adalah istilah awam yang paling sering merujuk pada dermatitis atopik. Berbagai jenis dermatitis memiliki tanda yang mirip, yaitu kulit kering, kemerahan, bersisik, dan gatal, tetapi penyebab dan penanganannya bisa berbeda .
Beberapa jenis yang paling sering dijumpai adalah sebagai berikut.
• Dermatitis atopik. Terjadi akibat gangguan sawar (pelindung) kulit dan sistem imun, dan sering diturunkan dalam keluarga. Penyakit ini kambuh berulang, sering dimulai sejak bayi atau anak, dan kerap disertai riwayat asma atau rinitis alergi.
• Dermatitis kontak iritan. Disebabkan paparan berulang bahan yang merusak kulit seperti sabun, deterjen, air, atau cairan kimia. Keluhan muncul di area yang terpapar, disertai rasa perih atau terbakar.
• Dermatitis kontak alergi. Merupakan reaksi alergi terhadap bahan tertentu, misalnya nikel, pewangi, pengawet, atau karet. Ruam biasanya muncul beberapa jam sampai beberapa hari setelah kontak dan terasa sangat gatal.
• Eksim tangan. Dipicu gabungan faktor atopi, iritan, dan alergen. Kondisi ini sering dialami tenaga kesehatan serta pekerja salon, dapur, dan kebersihan.
Dermatitis atopik cukup sering dijumpai, terutama pada anak. Sebagian besar kasus muncul sebelum usia 5 tahun, dan sebagian dapat berlanjut hingga dewasa .
Mengapa Eksim Bisa Terjadi?
Eksim terjadi karena kombinasi kulit yang "bocor" dan sistem imun yang terlalu reaktif. Tidak ada satu penyebab tunggal; beberapa faktor saling memperkuat.
1. Sawar kulit yang lemah. Lapisan terluar kulit berfungsi seperti tembok bata. Pada penderita eksim, "semen" di antara bata kurang, salah satunya akibat kelainan protein filaggrin. Akibatnya air mudah menguap, sementara iritan dan alergen mudah masuk.
2. Peradangan tipe 2. Sistem imun bereaksi berlebihan dan melepaskan zat peradangan seperti IL-4, IL-13, dan IL-31. Zat ini membuat kulit merah, menebal, dan sangat gatal.
3. Ketidakseimbangan bakteri kulit. Bakteri Staphylococcus aureus lebih banyak tumbuh pada kulit eksim dan dapat memperberat peradangan.
4. Siklus gatal dan garuk. Menggaruk memberi rasa lega sesaat, tetapi merusak kulit lebih jauh sehingga gatal makin hebat.
Faktor pencetus kekambuhan antara lain udara kering atau panas, keringat, stres, sabun keras, bahan pakaian kasar seperti wol, tungau debu, dan infeksi kulit.
Kenali Gejalanya
Gejala utama eksim adalah rasa gatal, yang sering memburuk pada malam hari. Gejala lain yang menyertai antara lain :
• Kulit kering, kasar, dan bersisik
• Bercak merah, yang pada kulit gelap dapat tampak cokelat keunguan atau keabuan
• Bintil kecil yang bisa berair lalu mengering menjadi keropeng
• Kulit menebal dan garis kulit makin jelas (likenifikasi) akibat digaruk dalam waktu lama
Lokasi eksim biasanya berbeda sesuai usia. Pada bayi di bawah 2 tahun, eksim sering muncul di pipi, wajah, kulit kepala, serta sisi luar lengan dan tungkai. Pada anak, eksim lebih sering ditemukan di lipatan siku, lipatan lutut, pergelangan tangan dan kaki, serta leher. Pada remaja dan dewasa, eksim banyak mengenai lipatan tubuh, tangan, kelopak mata, leher, dan wajah.
Bagaimana Dokter Mendiagnosis?
Diagnosis dermatitis atopik ditegakkan secara klinis, yaitu dari wawancara dan pemeriksaan kulit, tanpa memerlukan tes darah khusus. Dokter akan menilai adanya rasa gatal, bentuk dan lokasi ruam yang khas sesuai usia, pola kambuh berulang, serta riwayat alergi pribadi maupun keluarga seperti asma, rinitis alergi, atau eksim.
Bila dicurigai dermatitis kontak alergi, terutama pada eksim tangan atau eksim yang tidak membaik dengan pengobatan biasa, dokter dapat menyarankan uji tempel (patch test) untuk mencari bahan pemicu alergi.
Perawatan di Rumah dan Pencegahan Kekambuhan
Kebiasaan sehari-hari menentukan seberapa sering eksim kambuh. Langkah berikut dianjurkan oleh berbagai pedoman :
1. Mandi singkat dengan air hangat suam-suam kuku, sekitar 5 sampai 10 menit. Hindari air panas.
2. Gunakan sabun lembut tanpa pewangi atau pembersih pengganti sabun, secukupnya saja.
3. Keringkan dengan cara ditepuk, jangan digosok dengan handuk.
4. Segera oleskan pelembap dalam beberapa menit setelah mandi selagi kulit masih sedikit lembap.
5. Pilih pakaian katun yang longgar dan hindari bahan wol atau yang kasar.
6. Potong kuku pendek, terutama pada anak, untuk mengurangi luka akibat garukan.
7. Kenali dan hindari pemicu pribadi, misalnya keringat berlebih, deterjen, pewangi, atau stres.
8. Untuk eksim tangan, gunakan sarung tangan saat bekerja dengan air atau bahan kimia, dan oleskan pelembap setiap selesai mencuci tangan.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksakan diri bila mengalami kondisi berikut :
• Gatal mengganggu tidur, sekolah, atau pekerjaan
• Eksim tidak membaik setelah 1 sampai 2 minggu perawatan di rumah
• Ruam meluas ke banyak bagian tubuh
• Tanda infeksi seperti kulit bernanah, keropeng kuning seperti madu, nyeri, atau demam
• Lepuh kecil berkelompok yang pecah meninggalkan luka bulat disertai demam. Kondisi ini dapat menandakan eksim herpetikum, keadaan gawat darurat yang perlu ditangani segera.
Eksim memang belum dapat disembuhkan total, tetapi dapat dikendalikan sehingga penderitanya tetap nyaman beraktivitas. Kuncinya adalah merawat kulit setiap hari, menggunakan obat sesuai anjuran, dan mengenali pemicu kekambuhan.
Bila Anda atau anggota keluarga mengalami keluhan kulit gatal yang berulang, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter Spesialis Kulit di RSU Allam Medica Bumiayu untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat. Hubungi Customer Care kami untuk konsultasi layanan lebih lanjut.
oleh: dr. Soviyanti Wulandari/Tim PKRS RSU Allam Medica Bumiayu
Daftar Pustaka
1. Chan, C. X., & Zug, K. A. (2021). Diagnosis and management of dermatitis, including atopic, contact, and hand eczemas. Medical Clinics of North America, 105(4), 611–626. https://doi.org/10.1016/j.mcna.2021.04.003
2. Criado, P. R., Miot, H. A., Bueno-Filho, R., Ianhez, M., Jardim Criado, R. F., & de Castro, C. S. (2024). Update on the pathogenesis of atopic dermatitis. Anais Brasileiros de Dermatologia, 99(6), 895–915. https://doi.org/10.1016/j.abd.2024.06.001
3. Jeskey, J., Kurien, C., Blunk, H., Sehmi, K., Areti, S., Nguyen, D., & Hostoffer, R. (2024). Atopic dermatitis: A review of diagnosis and treatment. Journal of Pediatric Pharmacology and Therapeutics, 29(6), 587–603. https://doi.org/10.5863/1551-6776-29.6.587
4. Sidbury, R., Alikhan, A., Bercovitch, L., Cohen, D. E., Darr, J. M., Drucker, A. M., Eichenfield, L. F., Frazer-Green, L., Paller, A. S., Schwarzenberger, K., Silverberg, J. I., Singh, A. M., Wu, P. A., & Davis, D. M. R. (2023). Guidelines of care for the management of atopic dermatitis in adults with topical therapies. Journal of the American Academy of Dermatology, 89(1), e1–e20. https://doi.org/10.1016/j.jaad.2022.12.029
5. Van Halewijn, K. F., Lahnstein, T., Bohnen, A. M., Van Den Berg, P. J., Pasmans, S. G. M. A., Bindels, P. J. E., & Elshout, G. (2022). Recommendations for emollients, bathing and topical corticosteroids for the treatment of atopic dermatitis: A systematic review of guidelines. European Journal of Dermatology, 32(1), 113–123. https://doi.org/10.1684/ejd.2022.4197