Banyak orang tua merasa cemas ketika anak mulai sulit makan, menolak makanan, atau langsung menutup mulut setiap kali disuapi. Kondisi ini sering dikenal dengan istilah Gerakan Tutup Mulut (GTM). Meski umum terjadi pada bayi dan balita, GTM yang berlangsung terus-menerus dapat berdampak pada pertumbuhan, perkembangan, dan status gizi anak.
Lalu, apa sebenarnya GTM? Apakah berbahaya? Dan bagaimana cara mengatasinya?
Apa Itu GTM?
Gerakan Tutup Mulut (GTM) adalah kondisi ketika anak menolak makan dengan cara menutup mulut, memalingkan wajah, memuntahkan makanan, melepeh makanan, menyimpan makanan terlalu lama di dalam mulut, atau hanya mau mengonsumsi makanan tertentu. GTM merupakan salah satu bentuk kesulitan makan yang sering terjadi pada bayi dan balita.
Pada usia balita, GTM sering muncul saat anak mulai mengenal makanan baru, mengalami fase ingin mandiri, atau sedang mengalami perubahan fisik dan emosional.
Mengapa Anak Mengalami GTM?
Penyebab GTM sangat beragam dan sering kali merupakan kombinasi beberapa faktor, antara lain:
1. Fase Perkembangan Normal
Pada usia 1–3 tahun, laju pertumbuhan anak mulai melambat dibandingkan saat bayi. Akibatnya, kebutuhan energi berkurang dan nafsu makan anak tampak menurun. Kondisi ini sering membuat orang tua mengira anak sedang sakit atau kekurangan gizi.
2. Pengenalan MP-ASI yang Kurang Tepat
Masa usia 6–9 bulan merupakan periode penting dalam pengenalan makanan padat. Jika tekstur makanan tidak dinaikkan sesuai usia atau proses pemberian makan kurang tepat, risiko terjadinya GTM dapat meningkat.
3. Anak Picky Eater
Sebagian anak hanya menyukai jenis makanan tertentu dan menolak makanan baru karena rasa, warna, tekstur, atau aroma yang berbeda. Perilaku picky eater cukup sering ditemukan pada anak usia prasekolah dan dapat memengaruhi kecukupan gizi bila tidak ditangani dengan baik.
4. Pola Asuh Saat Makan
Cara orang tua memberikan makan sangat memengaruhi kebiasaan makan anak. Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang hangat, responsif, dan demokratis cenderung membentuk perilaku makan yang lebih baik dibandingkan pola asuh permisif atau terlalu otoriter. Anak dengan pola asuh permisif ditemukan lebih banyak mengalami GTM dibandingkan anak dengan pola asuh demokratis.
5. Distraksi Saat Makan
Kebiasaan makan sambil menonton televisi, bermain gadget, atau aktivitas lain dapat mengganggu kemampuan anak mengenali rasa lapar dan kenyang. Paparan layar berlebihan juga dikaitkan dengan perubahan perilaku makan pada anak.
6. Kondisi Medis
Beberapa penyakit seperti infeksi saluran napas, sariawan, tumbuh gigi, gangguan pencernaan, hingga masalah sensorik tertentu dapat menyebabkan anak tidak nyaman saat makan.
Dampak GTM Jika Dibiarkan
GTM yang berlangsung dalam waktu lama dapat menyebabkan:
Berat badan sulit naik
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan
Kekurangan zat gizi penting seperti zat besi, kalsium, dan vitamin
Menurunnya daya tahan tubuh
Risiko stunting
Hubungan orang tua dan anak menjadi tegang saat waktu makan
Penelitian menunjukkan bahwa perilaku makan bermasalah yang berlangsung terus-menerus dapat meningkatkan risiko gangguan status gizi pada anak.
Cara Mengatasi Anak GTM
1. Terapkan Responsive Feeding
Responsive feeding adalah cara memberi makan yang memperhatikan sinyal lapar dan kenyang anak. Orang tua bertugas menyediakan makanan sehat, sedangkan anak menentukan berapa banyak yang ingin dimakan.
Hindari memaksa, mengancam, atau menyuap sambil memarahi anak.
2. Buat Jadwal Makan Teratur
Biasakan anak makan utama 3 kali sehari dan camilan sehat 2–3 kali sehari. Hindari memberikan susu atau camilan terlalu dekat dengan waktu makan.
3. Kenalkan Makanan Baru Berulang Kali
Jangan langsung menyerah jika anak menolak makanan baru. Kadang anak membutuhkan 10–15 kali paparan sebelum mau menerima makanan tersebut.
4. Ciptakan Suasana Makan yang Menyenangkan
Makan bersama keluarga
Matikan televisi dan gadget
Hindari memaksa anak menghabiskan makanan
Berikan pujian saat anak mencoba makanan baru
5. Libatkan Anak
Ajak anak memilih sayuran, membantu menyiapkan makanan, atau menyusun makanan di piring. Cara ini dapat meningkatkan minat anak terhadap makanan.
6. Sesuaikan Tekstur dan Variasi Makanan
Tekstur makanan harus meningkat sesuai usia anak. Variasikan warna, bentuk, dan penyajian agar makanan terlihat menarik.
7. Perhatikan Kondisi Kesehatan Anak
Jika GTM disertai demam, muntah, diare, penurunan berat badan, atau berlangsung lama, segera konsultasikan ke dokter.
Kapan Harus Membawa Anak ke Dokter?
Segera periksakan anak ke fasilitas kesehatan apabila:
GTM berlangsung lebih dari 2 minggu
Berat badan tidak naik atau justru turun
Anak tampak lemas
Sering muntah saat makan
Menolak hampir semua jenis makanan
Terdapat tanda dehidrasi atau kekurangan gizi
Kesimpulan
Gerakan Tutup Mulut (GTM) merupakan masalah yang cukup sering terjadi pada bayi dan balita. Penyebabnya beragam, mulai dari fase perkembangan normal, pola asuh, kebiasaan makan, hingga kondisi kesehatan tertentu. Kunci utama mengatasi GTM adalah kesabaran, konsistensi, serta penerapan pola makan yang responsif dan menyenangkan.
Apabila GTM berlangsung lama atau memengaruhi pertumbuhan anak, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani lebih dini.
Daftar Pustaka
Astuti E, Siagian ML, Pashawati KPDW. Pola Asuh Orang Tua Berhubungan dengan Kejadian Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada Balita di Posyandu Keluarga Tanjung Sari Surabaya. 2025.
Setia HR, Fauzah SN, Suhaeni E, Ulfah SM. Parenting Styles and Eating Behaviors Among Stunted Toddlers. Jurnal Kebidanan dan Kesehatan Tradisional. 2026;11(1):49–63.
Romdiyani H, Mirino F, Anisa EU, Wijayanti D, Sofiyanti I. Perilaku Picky Eating pada Anak Usia Prasekolah: Prevalensi, Faktor yang Memengaruhi, Dampak terhadap Status Gizi dan Strategi Intervensi pada Picky Eating. Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo. 2024.
Yunita DRPI, Rohmah N, Kholifah S. Hubungan Pola Asuh dengan Perilaku Picky Eater pada Anak Usia Prasekolah di TK Aisyiyah Bustanul Athfal II Sumbersari Kabupaten Jember. The Indonesian Journal of Health Science. 2025;17(2):112–122.
Nadirawati, Suryaningsih C, Young FC, Haroen H, Susilowati. The Role of Family Eating and Activity Habits in the Relationship Between Parenting and Feeding Practices on Child Eating Behavior. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia. 2025;8(9):1013–1024.
Rahmadhani EP, Fitri AT, Damayanti P, Febriani W, Komala R. Screen Time dan Perilaku Makan Anak 6–59 Bulan di Pekon Klaten. Jurnal Gizi. 2026;15(1):1–10.
Br. Tambunan IY, Butar-Butar MJ, Siringo-ringo E, et al. Manfaat MP-ASI untuk Bayi Usia Enam Sampai Dua Puluh Empat Bulan di Kelurahan Sari Rejo Kecamatan Medan Polonia. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan. 2026;4(3):20405–20416.