085292224886 allam.medica@yahoo.co.id

Hubungi Kami

Kirim Pesan
Get In Touch
Jl. P. Diponegoro No.609, Bumiayu, Brebes
Beranda Artikel Detail Artikel
Kesehatan

Bintitan? Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

RSU Allam Medica 17 September 2026 5 menit baca 25 tayangan
Bintitan? Kenali Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Oleh Tim PKRS RSU Allam Medica Bumiayu
Dipublikasikan oleh Humas dan Kerjasama RSU Allam Medica Bumiayu

Pernahkah Anda tiba-tiba merasakan kelopak mata bengkak, nyeri saat berkedip, lalu muncul benjolan kecil kemerahan seperti jerawat di tepi mata? Kondisi ini dikenal sebagai bintitan atau dalam istilah medis disebut hordeolum.

Di masyarakat, bintitan sering dikaitkan dengan mitos seperti kebiasaan mengintip orang lain. Faktanya, tidak ada hubungan antara bintitan dan mitos tersebut. Secara medis, bintitan umumnya terjadi akibat infeksi bakteri pada kelenjar di kelopak mata dan sering berkaitan dengan kebersihan area mata yang kurang terjaga.

Meski biasanya bukan kondisi yang berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya, bintitan tetap perlu ditangani dengan benar agar tidak menimbulkan infeksi yang lebih luas atau berulang.

Apa Itu Bintitan?

Bintitan adalah infeksi akut pada kelenjar yang berada di kelopak mata. Kelenjar-kelenjar ini berfungsi menghasilkan minyak dan keringat yang membantu menjaga kelembapan permukaan mata.

Ketika saluran kelenjar tersumbat, bakteri dapat berkembang biak dan menyebabkan peradangan. Akibatnya, muncul benjolan yang terasa nyeri, kemerahan, dan terkadang berisi nanah.

Sebagian besar kasus bintitan disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, yang memang sering ditemukan di permukaan kulit manusia.

Jenis-Jenis Bintitan
1. Hordeolum Eksternal

Terjadi pada kelenjar yang berada di tepi luar kelopak mata, dekat bulu mata. Benjolan biasanya terlihat jelas dari luar dan lebih mudah pecah secara alami.

2. Hordeolum Internal

Terjadi pada kelenjar yang berada lebih dalam di kelopak mata. Pembengkakan dan nyerinya sering kali lebih terasa dibandingkan bintitan eksternal.

3. Kalazion

Kalazion sering disangka bintitan. Bedanya, kalazion bukan disebabkan oleh infeksi, melainkan penyumbatan kelenjar minyak. Benjolannya biasanya tidak nyeri, tetapi dapat bertahan lebih lama.

Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Bintitan?

Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami bintitan, antara lain:

Sering menyentuh atau mengucek mata dengan tangan yang tidak bersih.
Kebersihan kelopak mata yang kurang terjaga.
Mengalami blefaritis (radang tepi kelopak mata).
Memiliki penyakit kulit seperti dermatitis seboroik atau rosacea.
Menderita diabetes melitus.
Menggunakan lensa kontak yang kurang bersih.
Menggunakan kosmetik mata yang sudah lama atau tidak higienis.

Bintitan dapat terjadi pada siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Gejala yang Sering Dirasakan

Gejala bintitan umumnya mudah dikenali, antara lain:

- Muncul benjolan kecil kemerahan pada kelopak mata.
- Nyeri atau terasa sakit saat berkedip.
- Kelopak mata bengkak.
- Mata terasa mengganjal seperti ada benda asing.
- Mata berair.
- Sensitif terhadap cahaya.
- Muncul titik putih atau kekuningan yang menandakan adanya nanah.
- Jangan Memencet Bintitan!

Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan adalah mencoba memencet atau memecahkan bintitan sendiri.

Tindakan ini justru dapat memperparah infeksi karena bakteri bisa menyebar ke jaringan sekitar mata. Selain itu, memencet bintitan juga berisiko menimbulkan bekas luka dan memperlama proses penyembuhan.

Selama masih mengalami bintitan, sebaiknya hindari penggunaan lensa kontak maupun riasan mata.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Sebagian besar bintitan dapat membaik dalam waktu 1–2 minggu dengan perawatan sederhana di rumah.

Kompres Hangat

Ini merupakan cara yang paling sering dianjurkan oleh dokter mata. Tempelkan kain bersih yang telah direndam air hangat pada kelopak mata selama 10–15 menit, sebanyak 3–4 kali sehari.

Kompres hangat membantu melancarkan aliran minyak yang tersumbat dan mempercepat keluarnya nanah.

Menjaga Kebersihan Kelopak Mata

Bersihkan area kelopak mata secara lembut dan hindari menyentuh mata dengan tangan yang kotor.

Pengobatan dari Dokter

Jika peradangan cukup berat atau terdapat tanda infeksi yang lebih luas, dokter dapat memberikan salep antibiotik, tetes mata, atau antibiotik minum sesuai kebutuhan.

Tindakan Medis

Apabila benjolan tidak kunjung membaik setelah beberapa minggu atau ukurannya semakin besar, dokter spesialis mata mungkin akan melakukan tindakan kecil untuk mengeluarkan isi benjolan.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera periksakan diri ke dokter spesialis mata apabila:

- Bintitan tidak membaik setelah lebih dari satu minggu.
- Benjolan semakin besar.
- Nyeri sangat hebat.
- Pembengkakan meluas ke area wajah.
- Disertai demam.
- Penglihatan menjadi kabur atau terganggu.
- Bintitan sering muncul berulang pada lokasi yang sama.

Cara Mencegah Bintitan
Mencegah tentu lebih baik daripada mengobati. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Rajin mencuci tangan.
- Hindari mengucek mata.
- Bersihkan riasan mata sebelum tidur.
- Jangan berbagi kosmetik mata dengan orang lain.
- Jaga kebersihan lensa kontak dan tempat penyimpanannya.
- Kontrol penyakit seperti diabetes atau gangguan kulit yang dapat meningkatkan risiko bintitan.

Kesimpulan
Bintitan merupakan infeksi pada kelenjar kelopak mata yang umumnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan perawatan sederhana seperti kompres hangat serta menjaga kebersihan mata. Namun, bila keluhan tidak membaik, sering berulang, atau disertai gangguan penglihatan, segera konsultasikan ke dokter spesialis mata agar mendapatkan penanganan yang tepat.

Jaga kesehatan mata Anda dan keluarga. Untuk konsultasi lebih lanjut mengenai bintitan maupun gangguan mata lainnya, Anda dapat berkonsultasi di Poli Mata RSU Allam Medica Bumiayu.

“Mata Sehat, Aktivitas Lancar — Jaga Kebersihan Mata Sejak Dini.”

Referensi :
1. Cahyana, A.H., Firnandya, A.S., Naufal, M.A., Sangging, P.R.A. and Himayani, R., 2023. Intervensi pada penderita hordeolum pada anak. Medula, 13(4.1), pp.196–204.

2. Mahayani, N.M.W., 2024. Diagnosis dan Penatalaksanaan Hordeolum: Sebuah Laporan Kasus. Jurnal Ilmiah Kedokteran, pp.5–7.

3. Nabilah, D.R. and Saftarina, F., 2025. Penatalaksanaan Holistik pada Anak Usia 8 Tahun dengan Hordeolum Interna Melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 7(2), pp.493–504.

4. Shin, H.J., Yoon, J.S., Choung, H. and Lew, H., 2025. Management Practice for Hordeolum and Chalazion: A Survey of the Korean Society of Ophthalmic Plastic and Reconstructive Surgery (KSOPRS) Members. Korean Journal of Ophthalmology, 39(3), pp.222–240. https://doi.org/10.3341/kjo.2025.0024.

5. Wijaya, B., Wicaksono, R.N. and Zahidah, U., 2024. Seorang Perempuan 6 Tahun dengan Hordeolum Ocular Dextra (A 6 Years Old Girl with Internal Hordeolum Ocular Dextra). In: Proceeding of The 17th Continuing Medical Education Faculty of Medicine Universitas Muhammadiyah Surakarta (CME FK UMS). Surakarta, Indonesia, pp.223–226
Kembali ke Daftar Artikel